Kamis, 29 September 2011

Berpikir Kritis

A.    Berpikir Kritis dalam Pendidikan Keperawatan
            Berpikir kritis merupakan suatu tehnik berpikir yang melatih kemampuan dalam mengevaluasi atau melakukan penilaian secara cermat tentang tepat-tidaknya ataupun layak-tidaknya seatu gagasan. Berpikir kritis merupakan suatu proses berpikir (kognitif) yang mencakup penilaian dan analisa secara rasional tentang semua informasi, masukan, pendapat dan ide yang ada, kemudian merumuskan kesimpulan dan mengambil suatu keputusan.

ASPEK PERILAKU BERPIKIR KRITIS
            Kegiatan berpikir kritis dapat dilakukan dengan melihat penampilan dari beberapa perilaku selama proses berpikir kritis itu berlangsung. Perilaku berpikir kritis seseorang dapat dilihat dari beberapa aspek:
1.      Relevance
Relevansi (keterkaitan) dari pernyataan yang dikemukakan.
2.      Importance
Penting tidaknya isu atau pokok-pokok pikiran yang dikemukakan.
3.      Novelty
Kebaruan dari isi pikiran, baik dalam membawa ide-ide atau informasi baru maupun dalam sikap menerima adanya ide-ide baru orang lain.
4.      Outside material
Menggunakan pengalamannya sendiri atau bahan-bahan yang diterimanya dari perkuliahan (refrence).
5.      Ambiguity clarified
Mencari penjelasan atau informasi lebih lanjut jika dirasakan ada ketidak jelasan.
6.      Linking ideas
Senantiasa menghubungkan fakta, idea tau pandangan serta mencari data baru dari informasi yang berhasil dikumpulkan.
7.      Justification
Member bukti-bukti, contoh, atau justifikasi terhadap suatu solusi atau kesimpulan yang diambilnya. Termasuk di dalalmnya senantiasa member penjelasan mengenai keuntungan (kelebihan) dan kerugian (kekurangan) dari suatu situasi atau solusi.
8.      Critical assessment
Melakukan evaluasi terhadap setiap kontribusi/ masukan yang dating dari dalam dirinya maupun dari orang lain.
9.      Practical utility
Ide-ide baru yang dikemukakan selalu dilihat pula dari sudut keperaktisan/ kegunaanya dalam penerapan.
10.  Width of understanding
Diskusi yang dilaksanakan senantiasa bersifat muluaskan isi atau materi diskusi.

Isi suatu kualitas dari kegiatan berpikir harus mengandung unsur-unsur seperti dibawah ini:
1.      Sistematik dan senantiasa menggunakan criteria yagn tinggi (terbaik) dari sudut intelektual untuk hasil berpikir yang ingin dicapai.
2.      Individu bertanggung jawab sepenuhnya atas proses kegiatan berpikir.
3.      Selalu mengunakan criteria berdasar standart yang telah ditentukan dalam memantau proses berpikir.
4.      Melakukan evaluasi terhadap efektivitas kegiatan berpikir yang ditinjau dari pencapaian tujuan yang telah ditetapkan.

Untuk lebih mengoptimalkan dalam proses berpikir kritis setidaknya faham dan tahu dari komponen berpikir kritis itu sendiri dan komponen berpikir kritis meliputi; pengetahuan dasar spesifik, pengalaman, kompetensi sikap dan standar.
1.      Pengetahuan dasar spesifik
Komponen pertama berpikir kritis adalah pengetahuan dasar perawat yang spesifik dalam keperawatn. Pengetahuan dasar ini meliputi teori dan informasi dari ilmu-ilmu pengetahuan, kemanusiaan, dan ilmu-ilmu keperawatan dasar.
2.      Pengalaman
Komponen kedua dari berpikir kritis adalah pengalaman. Pengalaman perawat dalam peraktik klinik akan mempercepat proses berpikir kritis karena ia akan berhubungan dengan kliennya, melakukan wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan membuat keputusan untuk melakukan perawatan terhadap masalah kesehatan.
Pengalaman adalah hasil interaksi antara individu melalui alat indranya dan stimulus yang berasal dari beberapa sumber belajar.
3.      Kompetensi
Kompetensi berpikir kritis merupakan proses kognitif yang digunakan untuk membantu penilaian keperawatan.
4.      Sikap dalam berpikir kritis
Sikap dalam berpikir kritis merupakan sikap yang diperoleh dari proses berpikir kritis dan sikap belum merupakan suatu tindakan atau aktivitas, akanv tetapi adalah merupakan predisposisi tindakan/ kesiapan untuk bereaksi terhadap setimulus atau objek menurut Newcomb dalam notoatmodjo (1993), sikap merupakan kesiapan atau kesediaan untuk bertindak
5.      Standart/ karakteristik berpikir kritis
Dalam standart berpikir kritis trerdapat dua komponen:
a. Standar intelktual
Dalam standar intelektual untuk menghasilkan proses berpikir perlu di perhatikan tentang; rasional dan memiliki alasan yang tepat, reflektif, menyelidik, otonomi berpikir, kreatif, terbuka dan mengevaluasi.
b. Standar professional
Pada standar profesioanl keperawatan memiliki kode etik keperawatan dan standart praktek asuhan keperawatan.

B.     Setting Struktur dalam Pengajaran
Dari segi struktur belajar-mengajar dapat dibedakan menjadi dua :
a. Struktur belajar-mengajar yang bersifat tertutup, ialah suatu proses belajar mengajar yang segala sesuatunya telah ditentukan secara reLatif ketat dimana guru tidak berani menyimpang dari persiapan mengajar yang telah dibuat.
b. Struktur perstiwa belajar yang bersifat terbuka, ialah proses belajar-mengajar dimana tujuan, materi dan prosedur yang akan ditempuh untuk mencapainya ditentukan sementara kegiatan belajar mengajarnya berlangsung. Contoh pengajaran yang bersifat terbuka adalah pengajaran unit yaitu suatu sistem mengajar yang berpusat pada suatu masalah dan dipecahkan secra keseluruhan yang mempunyai arti (Engkoswara,1984:70)
C.    Aspek-aspek Pengajaran Klinik
Pengajaran klinik keperawatan mengungkapkan bahwa dalam mendefinisikan pengajaran klinik harus mempertimbangkan beberapa elemen dasar sebagai berikut:
1.      Pengajaran klinik merupakan jantung dari kurikulum pendidikan keperawatan.
2.      Pengajaran klinik meliputi perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi mahasiswa secara langsung.
3.      Pengajaran klinik memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk menerapkan pengetahuan teoritis tentang pelayanan keperawatan kepada pasien dengan fokus utama pelayanan keperawatan kepada pasien itu sendiri (Patient Centered Nursing Sistem).

            Dimensi lain yang penting dari pengajaran klinik adalah untuk mengungkapkan kompleksitas keadaan praktek klinik di lahan praktek menjadi bahan pengajaran bagi mahasiswa. Dengan kata lain pengajaran klinik berfokus kepada hubungan antara teori dan praktek, membantu mahasiswa untuk tidak hanya menerapkan teori tetapi praktek juga.

            Perhatian utama dalam pengajaran proses keperawatan adalah persepsi mengajar terhadap proses yang berhubungan dengan kesatuan atau bagian-bagiannya. Pendekatan procedural menekankan pada bagian-bagian dalam susunan yang kaku dan setiap bagian diperlakukan seperti sesuatu yang benar-benar berlainan. Pendekatan pemecahan masalah menekankan keseluruhan proses dimana bagian-bagian tersebut tidak saling terpisah tetapi dijalin menjadi kesatuan dan dipandang dalam konteks kesatuan.

Pengajaran mengenai proses keperawatan harus mengenali sifat dinamik proses itu dan memastikan bahwa berbagai keterampilan yang ada dalam proses yang diajarkan dan hal tersebut dipandang dalam konteks kesatuan.
D.    Isu-isu Pengajaran Klinik

            Banyak perhatian yang terpusat disekitar ketidaksesuaian antara asuhan keperawatan yang didasarkan pada keunikan dan individualitas seseorang serta proses perawatan yang terdiri dari dari fase yang kaku dan rangkaian tindakan yang tidak dapat diubah.barnum (1987) mengusulkan bahwa metodologi pemecahan masalah akan lebih sesuai dengan pandangan holisme dari keperawatan tetapi saat proses keperawatan pertama kali diajukan sebagai suatu metode praktik, proses ini diterima sebagai salah satu metode pemecahan masalah dan bukan metode yang berorientasi pada tugas. Mungkin kesulitan yang terjadi tidak terlalu berkaitan dengan prosesnya sendiri, tetapi justru dengan cara proses tersebut diinterpretasikan, diajarkan, dan digunakan dalam praktik.
            Beberapa trend dibidang praktik perawatan kesehatan menunjukkan adanya beberapa perubahan dalam pemberian perawatan kesehatan dan dasar fisiologis yang mendasari praktik. Isu-isu ekonomi yang berhubungan dengan pengeluaran dana untuk perawatan kesehatan menghasilkan perubahan pola yang mengakibatkan keterbatasan hubungan antara klien dengan pemberi perawatan. Kontak jangka pendek dengan sedikit kelanjutan ini akan memerlukan focus perhatian yang lebih terhadap kejelasan masalah yang ada dan keterampilan pengkajian yang tajam dipihak perawat untuk mendeteksi dan menginterpretasi petunjuk yang kurang jelas.                       


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar